TANDA SALIB
- Demi nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, amin
Kapan kita membuat tanda salib?
- Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.
- Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.
- Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)
- Saat-saat sedang menghadapi ketakutan (misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.
- Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan- Nya,
- Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.
- Ketika orangtua memberkati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.
Apa makna membuat tanda salib bagi diri kita?
Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan, “Orang Kristen memulai harinya, doanya, dan perbuatannya dengan tanda salib: Demi nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Sebagai orang yang dibaptis, ia mempersembahkan hari itu untuk kemuliaan Allah dan memohon rahmat Penebus, yang memungkinkan dia bertindak dalam Roh Kudus sebagai putera Bapa. Tanda salib menguatkan kita dalam percobaan dan kesulitan.” (Nr. 2157)
Demikianlah, menandai diri dengan tanda salib itu penting karena tiga alasan berikut. Pertama, salib adalah inti dan pusat iman kepercayaan kita. Menandai diri kita dengan tanda salib akan mengingatkan kita selalu akan seluruh pengorbanan dan harga yang sudah dibayar Yesus demi menebus dosa dan kesalahan kita.
Kedua, menandai diri dengan tanda salib bukan hanya sebuah pengakuan iman, tetapi juga doa. Sebagai sebuah doa, tanda salib yang kita lakukan memiliki kekuatan yang luar biasa. Santo Yohanes Krisosomus bahkan sangat yakin bahwa “…. setan akan sangat ketakutan dan lari terbirit-birit saat melihat kita membuat tanda salib.”
Ketiga, tanda salib juga merupakan sebuah sikap tubuh sederhana yang memiliki akar tradisi biblis. Tanda salib akan selalu mengingatkan kita akan peristiwa iman yang telah berumur lebih dari 2000 tahun ketika Yesus mengorbankan diri-Nya demi menyelamatkan dan menebus kita. Dengan membuat tanda salib, kita membuka diri pada kehadiran dan pertolongan Tuhan Yesus dalam membimbing dan menyelamatkan seluruh perjalanan hidup kita.
Tanda salib kecil di dahi, di bibir, dan di dada sebelum mendengarkan Sabda INJIL SUCI
Gerakan membuat tanda salib ini sangat sederhana, singkat dan seringkali ‘lewat begitu saja’ tanpa disertai dengan kesadaran penghayatan yang mendalam. Padahal maknanya sangat penting untuk membawa hati dan pikiran kita lebih terarah pada Sabda Ilahi yang akan kita dengar.
Sebenarnya gerakan ritual membuat tiga tanda salib tidak dimaksudkan sebagai gerakan untuk menyertai seruan “Dimuliakanlah Tuhan”. Jadi sebaiknya kita secara sadar menjawab terlebih dulu seruan Imam yang menyatakan dari Injil mana yang akan dibacakan saat itu. Lalu kita menjawab: “Dimuliakanlah Tuhan” (tanpa melakukan gerakan apa-apa). Baru kemudian membuat tanda salib di kening, di bibir, dan di dada.
Salah satu alasan utama kita membuat tanda salib di kening, di bibir, dan di dada sebelum bacaan Injil adalah: Untuk memohon agar Allah berkenan membiarkan SabdaNya menguasai pikiran, perkataan, dan seluruh kesadaran batin kita.
Sebagai bentuk penghayatan personal, sebagian orang lebih suka menyertai gerakan membuat tanda salib ini dengan disertai doa singkat di dalam hati, seperti: “Semoga Allah membersihkan dan mensucikan pemahamanku (tanda salib di kening), perkataan mulutku (tanda salib di bibir), dan seluruh hatiku (tanda salib di dada/hati); sehingga aku diperkenankan untuk menerima SabdaNya melalui Injil Suci”.
Arti masing-masing dari tiga tanda salib sebelum bacaan Injil dibacakan?
Pertama kita membuat tanda salib tersebut di dahi. Tanda ini memiliki arti, “Dalam pikiranku, saya percaya”. Kita meminta bantuan roh kudus agar kita bisa percaya pada sabda Tuhan, dalam pikiran kita.
Kedua kita membuat tanda salib di mulut. Tanda ini memiliki arti, “Melalui mulutku saya mewartakan”. Kita setuju untuk mewartakan sabda Tuhan yang anda percayai dalam pikiran kita ke semua orang.
Ketiga kita membuat tanda salib di dada. Tanda yang ini memiliki arti, “Dalam hatiku, saya simpan sabda Tuhan”. Kita sudah percaya pada sabda Tuhan, dan kita juga sudah setuju untuk mewartakannya ke semua orang agar mendapat keselamatan. Namun kita harus juga menyimpan sabda Tuhan itu dalam hati Anda, agar kita pun beroleh berkat-Nya.
Kesimpulan
Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menghormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.
Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)
Semoga dengan semakin menyadari makna dan pemahaman gerakan sederhana ini, kita semakin dipersiapkan untuk lebih pantas mendengar, menerima, dan meresapkan Sabda Tuhan, sebagai kekuatan bagi jiwa kita.
Dengan tanda salib tubuh kita telah dimeterai dan disucikan oleh Allah. Dalam segala kegiatan kita: dari kita bangun tidur, sebelum tidur, kita belajar, kita bekerja, kita melakukan pelayanan, kita makan, kita susah, kita senang, kita tertawa, kita menangis. Jika kita membuat tanda salib itu berarti kita mengundang Allah Tri Tunggal untuk menjaga, melindungi kita sehingga kita tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa. Tanda salib juga merupakan tanda persatuan kita dengan sesama umat Katolik.
Referensi:
- Imankatolik.or.id/tandasalib
- Sarapanpagi.org/tandasalib

Komentar
Posting Komentar